Welcome to

Activate Indonesia... dedicated to Indonesian whose willing to see Indonesia recovered as a great nation. Enjoy various articles from my Colleagues, Indonesian writers, columnis, or Indonesianis. "Celoteh Anak Bangsa" Journal tries to bring a positive angle of Indonesia, while you still keep watching that we are still strugling, arguing, fighting out there to activate Indonesia.

Tuesday, July 18, 2006

Cerita dari Olimpiade Fisika

Sungguh membanggakan, Selamat buat Para Putra Bangsa terbaik dan Pembimbing tangguh. Di tengah-tengah kesedihan bencana di tanah air (gunung api, gempa dan tsunami), adik-adik kita berhasil menorehkan tinta emas di ajang Olimpiade Fisika International di Singapura. Kalau kita cari arsip prestasi-prestasi pelajar dalam ajang Olimpiade Science international, sungguh membanggakan... ternyata kita bisa berdiri sejajar. Berikut adalah cerita dibalik layar dari salah seorang pembimbing Prof. Yohanes Surya.


Tulisan singkat berikut berasal dari Prof Yohanes Surya.

Hasil ini menunjukkan bangsa kita punya potensi besar untuk sukses di
dunia, kita hanya perlu kerja keras untuk mencapai itu.

Beberapa kesan dari Olimpiade Fisika Dunia ke 37 Singapore 2006

1. Waktu upacara pembagian medali, Dutabesar kita duduk disamping para
dutabesar dari berbagai negara seperti filipina, thailand, dsb. Waktu
honorable mention disebutkan, ternyata tidak ada siswa Indonesia.

Dubes-dubes bertanya pada dubes kita (kalau diterjemahkan) "kok nggak
ada siswa Indonesia?".
Dubes kita tersenyum saja. Kemudian setelah itu
dipanggil satu persatu peraih medali perunggu. Ada yang maju dari
Filipina, Thailand, Kazakhtan dsb. Lagi-lagi Dubes negara sahabat
bertanya "kok nggak ada siswa Indonesia?" Kembali Dubes kita tersenyum.
Dubes kita menyalami Dubes yang siswanya dapat medali perunggu.

Kemudian ketika medali perak disebut, muncul seorang anak kecil (masih
SMP) dengan peci sambil mengibarkan bendera kecil, dan namanya diumumkan
Muhammad Firmansyah Kasim...dari Indonesia... Saat itu Dubes negara
sahabat kelihatan bingung, mungkin mereka berpikir "nggak salah nih...".
Ketika mereka sadar, mereka langsung mengucapkan selamat pada Dubes
kita. Tidak lama kemudian dipanggil mereka yang dapat medali emas. Saat
itu Dubes negara sahabat kaget luar biasa, 4 anak Indonesia maju ke
panggung berpeci hitam dengan jas hitam, gagah sekali
. Satu persatu maju
sambil mengibar-ngibarkan bendera merah putih . Mengesankan dan mengharukan.

Semua Dubes langsung mengucapkan selamat pada dubes kita sambil berkata
bahwa Indonesia hebat.

Tidak stop sampai disitu. ketika diumumkan "the champion of the
International physics olympiade XXXVII is......."


"Jonathan Pradhana Mailoa".

Semua orang Indonesia bersorak. Bulu kuduk berdiri, merinding....
Semua orang mulai berdiri, tepuk tangan menggema
cukup lama... Standing Ovation....Hampir semua orang Indonesia yang
hadir dalam upacara itu tidak kuasa menahan air mata turun. Air mata
kebahagiaan, air mata keharuan.... Air mata kebanggaan sebagai bagian
dari bangsa Indonesia yang besar.....Segala rasa capai dan lelah
langsung hilang seketika... sangat mengharukan....

2. Selesai upacara, semua orang menyalami. Orang Kazakhtan memeluk
erat-erat sambil berkata "wonderful job..." Orang Malaysia menyalami
berkata "You did a great job..." Orang Taiwan bilang :"Now is your
turn..." Orang Filipina:"amazing..." Orang Israel "excellent work..."

Orang Portugal:" Portugal is great in soccer but has to learn physics
from Indonesia"
,

Orang Nigeria :"could you come to Nigeria to train our students too?" Orang Australia :"great...." Orang belanda: "you did
it!!!" Orang Rusia mengacungkan kedua jempolnya.. Orang Iran memeluk
sambil berkata "great wonderful..." 86 negara mengucapkan selamat...
Suasananya sangat mengharukan... saya tidak bisa menceritakan dengan
kata-kata...

3. Gaung kemenangan Indonesia menggema cukup keras. Seorang Prof dari
Belgia mengirim sms seperti berikut: Echo of Indonesian Victory has
reached Europe! Congratulations to the champions and their coach for
these amazing successes! The future looks bright....


Marc Deschamps.

Ya benar kata Prof. Deschamps, kita punya harapan....

Salam
Yohanes
Sumber: Subject: [Dosen ITB] Cerita dari Olimpiade Fisika
From: "Ishak Hanafiah Ismullah"

Sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, Part 4/8

1 Juni 1945 - Ir. Sukarno

Kesinilah kita semua harus menuju: mendirikan satu Nationale
staat
, diatas kesatuan bumi Indonesia dari Ujung Sumatera sampai ke
Irian. Saya yakin tidak ada satu golongan diatara tuan-tuan yang
tidak mufakat, baik Islam maupun golongan yang dinamakan "golongan
kebangsaan
". Kesinilah kita harus menuju semuanya.

Saudara-saudara, jangan orang mengira bahwa tiap-tiap negara
merdeka adalah satu nationale staat! Bukan Pruisen, bukan Beieren,
bukan Sakssen adalah nationale staat, tetapi seluruh Jermanialah
satu nationale staat. Bukan bagian kecil-kecil, bukan Venetia, bukan
Lombardia, tetapi seluruh Italialah, yaitu seluruh semenanjung di
Laut Tengah, yang diutara dibatasi pegunungan Alpen, adalah
nationale staat. Bukan Benggala, bukan Punjab, bukan Bihar dan
Orissa, tetapi seluruh segi-tiga Indialah nanti harus menjadi
nationale staat. Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah
air kita yang merdeka dijaman dahulu, adalah nationale staat. Kita
hanya 2 kali mengalami nationale staat, yaitu di jaman Sriwijaya dan
di zaman Majapahit. Di luar dari itu kita tidak mengalami nationale
staat. Saya berkata dengan penuh hormat kepada kita punya raja-raja
dahulu, saya berkata dengan beribu-ribu hormat kepada Sultan Agung
Hanyokrokoesoemo
, bahwa Mataram, meskipun merdeka, bukan nationale
staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Siliwangi di Pajajaran,
saya berkata, bahwa kerajaannya bukan nationale staat. Dengan
persaan hormat kepada Prabu Sultan Agung Tirtayasa, berkata, bahwa
kerajaannya di Banten, meskipun merdeka, bukan satu nationale staat.
Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanoedin di Sulawesi yang
telah membentuk kerajaan Bugis, saya berkata, bahwa tanah Bugis yang
merdeka itu bukan nationale staat. Nationale staat hanya Indonesia s
e l u r u h n y a, yang telah berdiri dijaman Sriwijaya dan
Majapahit
dan yang kini pula kita harus dirikan bersama-sama. Karena
itu, jikalau tuan-tuan terima baik, marilah kita mengambil sebagai
dasar Negara yang pertama: K e b a n g s a a n I n d o n e s i
a
. Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan
kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali, atau
lain-lain
, tetapi k e b a n g s a a n I n d o n e s i a, yang
bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat. Maaf, Tuan Lim Koen
Hian, Tuan tidak mau akan kebangsaan? Di dalam pidato Tuan, waktu
ditanya sekali lagi oleh Paduka Tuan Fuku-Kaityoo, Tuan
menjawab: "Saya tidak mau akan kebangsaan".

(T U A N L I M K O E N H I A N : Bukan begitu. Ada
sambungannya lagi. )

(T U A N S O E K A R N O:) Kalau begitu, maaf, dan saya
mengucapkan terima kasih, karena tuan Lim Koen Hian pun menyetujui
dasar kebangsaan. Saya tahu, banyak juga orang-orang Tionghoa klasik
yang tidak mau akan dasar kebangsaan, karena mereka memeluk faham
kosmopolitisme, yang mengatakan tidak ada kebangsaan, tidak ada
bangsa. Bangsa Tionghoa dahulu banyak yang kena penyakit
kosmopolitisme, sehingga mereka berkata bahwa tidak ada bangsa
Tionghoa, tidak ada bangsa Nippon, tidak ada bangsa India, tidak ada
bangsa Arab, tetapi semuanya "menschheid", "peri kemanusiaan".

Tetapi Dr. Sun Yat Sen bangkit, memberi pengajaran kepada rakyat
Tionghoa, bahwa a d a kebangsaan Tionghoa! Saya mengaku, pada
waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S. di
Surabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A.
Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, - katanya: jangan
berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa kemanusiaan sedunia,
jangan mempunyai rasa kebangsan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun
17. Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang
memperingatkan saya, - ialah Dr SunYat Sen! Di dalam tulisannya "San
Min Chu I
" atau "The Three People's Principles", saya mendapat
pelajaran yang membongkar kosmopolitisme yang diajarkan oleh A.
Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah r a s a k e b a n
g s a a n, oleh pengaruh "The Three People"s Principles" itu. Maka
oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun
Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah, bahwa Bung Karno juga
seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat-sehormat-hormatnya
merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, - sampai masuk
kelobang kubur.(Anggauta-anggauta Tionghoa bertepuk tangan).

Friday, July 07, 2006

Sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, Part 3/8

1 Juni 1945 - Ir. Sukarno

Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya,
banyak pikiran telah dikemukakan, - macam-macam - , tetapi alangkah
benarnya perkataan dr Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo,
bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan faham.
Kita bersama-sama mencari p e r s a t u a n p h i l o s o p h i s c
h e g r o n d s l a g , mencari satu "Weltanschauung" yang k i t a
s e m u a setuju.


Saya katakan lagi s e t u j u ! Yang saudara Yamin
setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang sdr.
Sanoesi setujui, yang sdr. Abikoesno setujui, yang sdr. Lim Koen
Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin,
ini bukan compromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang
kita b e r -s a m a - s a m a setujui. Apakah itu? Pertama-tama,
saudara-saudara, saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan
Indonesia merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan?
Mendirikan negara Indonesia merdeka yang namanya saja Indonesia
Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang,
untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk
memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan? Apakah maksud kita
begitu? Sudah tentu tidak! Baik saudara-saudara yang bernama kaum
kebangsaan yang disini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum
Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan yang demikian itulah kita
punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara "semua buat
semua". Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik
golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, - tetapi "semua buat
semua". Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas
lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan
saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokurutu Zyunbi
Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918, 25 tahun yang lebih,
ialah:

Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indonesia,
ialah dasar k e b a n g s a a n. K i t a m e n d i r i k a n
s a t u n e g a r a k e b a n g s a a n I n d o n e s i a. Saya
minta saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan saudara-saudara Islam lain:
maafkanlah saya memakai perkataan "kebangsaan" ini! Sayapun orang
Islam. Tetapi saya minta kepada saudara- saudara, janganlah saudara-
saudara salah faham jikalau saya katakan bahwa dasar pertama buat
Indonesia ialah dasar k e b a n g s a a n. Itu bukan berarti satu
kebangsaan dalam arti yang sempit, tetapi saya menghendaki satu n a
s i o n a l e s t a a t, seperti yang saya katakan dalam rapat di
Taman Raden Saleh beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat
Indonesia bukan berarti staat yang sempit. Sebagai saudara Ki Bagoes
Hadikoesoemo katakan kemarin, maka tuan adalah orang bangsa
Indonesia, bapak tuanpun adalah orang Indonesia, nenek tuanpun
bangsa Indonesia, datuk-datuk tuan, nenek-moyang tuanpun bangsa
Indonesia. Diatas satu kebangsaan Indonesia, dalam arti yang
dimaksudkan oleh saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo itulah, kita
dasarkan negara Indonesia. S a t u N a t i o n a l e S t a a t !
Hal ini perlu diterangkan lebih dahulu, meski saya di dalam rapat
besar di Taman Raden Saleh sedikit-sedikit telah menerangkannya.

Marilah saya uraikan lebih jelas dengan mengambil tempoh sedikit:
Apakah yang dinamakan bangsa? Apakah syaratnya bangsa? Menurut Renan
syarat bangsa ialah "kehendak akan bersatu". Perlu orang-orangnya
merasa diri bersatu dan mau bersatu. Ernest Renan menyebut syarat
bangsa: "le desir d'etre ensemble", yaitu kehendak akan bersatu.
Menurut definisi Ernest Renan, maka yang menjadi bangsa, yaitu satu
gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu.
Kalau kita lihat definisi orang lain, yaitu definisi Otto Bauer, di
dalam bukunya "Die Nationalitatenfrage", disitu ditanyakan: "Was ist
eine Nation?" dan jawabnya ialah: "Eine Nation ist eine aus chiksals-
gemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft". Inilah menurut Otto
Bauer satu natie. (Bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul
karena persatuan nasib). Tetapi kemarinpun, tatkala, kalau tidak
salah, Prof. Soepomo mensitir Ernest Renan, maka anggota yang
terhormat Mr. Yamin berkata: "verouderd", "sudah tua". Memang tuan-
tuan sekalian, definisi Ernest Renan sudah "verouderd", sudah tua.
Definisi Otto Bauer pun sudah tua. Sebab tatkala Otto Bauer
mengadakan definisinya itu, tatkala itu belum timbul satu wetenschap
baru, satu ilmu baru, yang dinamakan Geopolitik. Kemarin, kalau
tidak salah, saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo, atau Moenandar,
mengatakan tentang "Persatuan antara orang dan tempat".

Persatuan antara orang dan tempat, tuan-tuan sekalian, persatuan
antara manusia dan tempatnya! Orang dan tempat tidak dapat
dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di
bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat
orangnya. Mereka hanya memikirkan "Gemeinschaft"nya dan perasaan
orangnya, "l'ame et desir". Mereka hanya mengingat karakter, tidak
mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia
itu, Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu t a n a h a i r. Tanah
air itu adalah satu kesatuan. Allah SWT membuat peta dunia, menyusun
peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan
dimana "kesatuan-kesatuan" disitu. Seorang anak kecilpun, jikalau ia
melihat peta dunia, ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia
merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu
kesatuan gerombolan pulau-pulau diantara 2 lautan yang besar, lautan
Pacific dan lautan Hindia, dan diantara 2 benua, yaitu benua Asia
dan benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa
pulau-pulau Jawa,Sumatera, Borneo, Selebes, Halmaheira, Kepulauan
Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulau kecil diantaranya, adalah
satu kesatuan. Demikian pula tiap-tiap anak kecil dapat melihat pada
peta bumi, bahwa pulau-pulau Nippon yang membentang pada pinggir
Timur benua Asia sebagai "golfbreker" atau pengadang gelombang
lautan Pacific, adalah satu kesatuan. Anak kecilpun dapat melihat,
bahwa tanah India adalah satu kesatuan di Asia Selatan, dibatasi
oleh lautan Hindia yang luas dan gunung Himalaya. Seorang anak kecil
pula dapat mengatakan, bahwa kepulauan Inggris adalah satu kesatuan.
Griekenland atau Yunani dapat ditunjukkan sebagai kesatuan pula, Itu
ditaruhkan oleh Allah SWT demikian rupa. Bukan Sparta saja, bukan
Athene saja, bukan Macedonia saja, tetapi Sparta plus Athene plus
Macedonia plus daerah Yunani yang lain-lain, segenap kepulauan
Yunani, adalah satu kesatuan. Maka manakah yang dinamakan tanah
tumpah-darah kita, tanah air kita? Menurut geopolitik, maka
Indonesialah tanah air kita. Indonesia yang bulat, bukan Jawa saja,
bukan Sumatera saja, atau Borneo saja, atau Selebes saja, atau Ambon
saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan uang ditunjuk oleh
Allah SWT menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua samudera,
itulah tanah air kita! Maka jikalau saya ingat perhubungan antara
orang dan tempat, antara rakyat dan buminya, maka tidak cukuplah
definisi yang dikatakan oleh Ernest Renan dan Otto Bauer itu. Tidak
cukup "le desir d'etre ensembles", tidak cukup definisi Otto
Bauer "aus schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft"
itu. Maaf saudara-saudara, saya mengambil contoh Minangkabau,
diantara bangsa di Indonesia, yang paling ada "desir d'entre
ensemble", adalah rakyat Minangkabau, yang banyaknya kira-kira 2,5
milyun. Rakyat ini merasa dirinya satu keluarga. Tetapi Minangkabau
bukan satu kesatuaan, melainkan hanya satu bahagian kecil dari pada
satu kesatuan! Penduduk Yogyapun adalah merasa "le desir d'etre
ensemble", tetapi Yogyapun hanya satu bahagian kecil dari pada satu
kesatuan. Di Jawa Barat rakyat Pasundan sangat merasakan "le desir
d'etre ensemble", tetapi Sundapun hanya satu bahagian kecil dari
pada satu kesatuan. Pendek kata, bangsa Indonesia, Natie Indonesia,
bukanlah sekedar satu golongan orang yang hidup dengan "le desir
d'etre ensemble" diatas daerah kecil seperti Minangkabau, atau
Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia
ialah s e l u r u h manusia-manusia yang, menurut geopolitik yang
telah ditentukan oleh Allah SWT, tinggal dikesatuannya semua pulau-
pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatra sampai ke Irian! S e l u r
u h n y a !, karena antara manusia 70.000.000 ini sudah ada "le
desir d'etre enemble", sudah terjadi "Charaktergemeinschaft"! Natie
Indonesia, bangsa Indonesia, ummat Indonesia jumlah orangnya adalah
70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi s a t u, s a t u,
sekali lagi s a t u !
(Tepuk tangan hebat).